buzzID – Jakarta, Kasus peretasan kembali mencuri perhatian publik setelah seorang pemuda asal Sulawesi Utara mengaku sebagai “Bjorka”, sosok hacker misterius yang sempat membuat heboh jagat maya. Ia ditangkap polisi usai mengklaim telah meretas 4,9 juta data nasabah sebuah bank swasta.
Penangkapan ini menjadi babak baru dalam rentetan isu keamanan data di Indonesia, sekaligus membuka fakta-fakta baru soal siapa sebenarnya sosok di balik nama “Bjorka” yang selama ini hanya dikenal lewat dunia maya.
Kronologi Perkara
Kisah ini bermula pada Februari 2025, ketika sebuah akun media sosial X dengan nama @bjorkanesiaaa mengunggah tangkapan layar akun seorang nasabah. Dalam unggahannya, ia menandai akun resmi bank terkait dan menyebut telah meretas 4,9 juta data nasabah.
Kabar itu sontak menimbulkan keresahan. Bank bersangkutan segera melaporkan dugaan peretasan ke aparat penegak hukum. Direktorat Siber Polda Metro Jaya kemudian bergerak cepat menelusuri jejak digital yang ditinggalkan hacker tersebut.

Konferensi pers terkait Bjorka di Polda Metro Jaya. (Foto : okezone)[/caption]
Setelah berbulan-bulan penyelidikan, polisi akhirnya mengidentifikasi seorang pemuda berinisial WFT (22 tahun). Ia ditangkap di rumahnya di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada Selasa, 23 September 2025.
Pengumuman penangkapan dilakukan melalui konferensi pers resmi Polda Metro Jaya pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi membenarkan penangkapan tersebut.
“Benar, kami telah mengamankan seorang pemuda berinisial WFT di Minahasa terkait kasus peretasan yang mengaku sebagai Bjorka. Saat ini yang bersangkutan masih diperiksa intensif oleh penyidik,” ujar Ade Ary, Jumat (3/10/2025) di Mapolda Metro Jaya, Jakarta.
“Niat dari pelaku adalah sebenarnya untuk melakukan pemerasan pada bank swasta tersebut. Atas dasar postingan tersebut, kami melakukan penyelidikan dan pengungkapan kepada WFT adalah pemiliknya,” terangnya.
Barang bukti yang disita adalah berupa digital yang ada di komputer dan HP yang digunakan serta berbagai tampilan akun nasabah salah satu bank swasta.
Ia menambahkan bahwa penyidik masih mendalami sejauh mana keterlibatan WFT dalam kebocoran data perbankan. Polisi juga bekerja sama dengan otoritas perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan dampak dari dugaan kebocoran ini.
“Kami minta masyarakat tidak panik. Tim sedang menelusuri kebenaran data yang diklaim bocor. Sampai saat ini belum ada bukti otentik bahwa saldo nasabah benar-benar hilang,” tegasnya.
Latar Belakang Sosok “Bjorka”
Nama Bjorka bukan kali ini saja menggegerkan publik. Pada 2022 lalu, akun dengan nama serupa sempat merilis sejumlah data pemerintah, termasuk dokumen kependudukan dan surat internal pejabat. Sejak itu, nama Bjorka menjadi ikon anonim peretasan yang lekat dengan isu keamanan siber Indonesia.
Klaim peretasan data finansial skala besar ini menambah daftar panjang kasus kebocoran data di Indonesia. Pengamat keamanan siber menilai, jika benar 4,9 juta data nasabah terekspos, maka ini bisa menjadi salah satu kebocoran terbesar di sektor keuangan tanah air.
Polisi menegaskan akan membawa kasus ini hingga tuntas.
“Kami akan menindak tegas pelaku kejahatan siber yang merugikan masyarakat. Tidak ada ruang bagi siapapun untuk bermain-main dengan data publik,” tutup Kombes Ade Ary.

WFT (22) saat digelandang polisi usai ditangkap terkait kasus dugaan peretasan data nasabah bank swasta. Disebut sebagai pemilik akun Bjorka atau @bjorkanesiaa. (Foto Jawa Pos)
Fakta yang Terungkap
Dari hasil pemeriksaan, polisi menemukan sejumlah fakta menarik:
1.Aktif di Dark Web Sejak 2020
WFT diketahui sudah aktif menjelajahi forum-forum gelap (dark web) sejak lima tahun terakhir. Ia menggunakan berbagai alias seperti SkyWave, ShinyHunter, hingga Opposite6890 untuk menyamarkan identitasnya.
2.Menggunakan Kripto untuk Transaksi
Polisi menduga WFT memperdagangkan data ilegal di dark web dengan pembayaran menggunakan mata uang kripto. Cara ini lazim dipakai dalam aktivitas kriminal siber karena sulit dilacak.
3.Tidak Punya Latar Belakang IT Formal
Meski memiliki kemampuan peretasan, WFT bukan lulusan jurusan teknologi informasi. Ia diketahui tidak menamatkan sekolah kejuruan, dan kemampuan hacking-nya diperoleh secara otodidak lewat komunitas daring serta percobaan pribadi.
4.Barang Bukti Digital Disita
Saat penggeledahan, aparat menyita perangkat komputer, ponsel, kartu SIM, dan media penyimpanan yang diduga dipakai untuk aktivitas peretasan. Barang bukti ini kini diperiksa untuk mengurai lebih jauh jaringannya.
5.Motif Diduga Pemerasan
Klaim kebocoran 4,9 juta data nasabah disebut digunakan sebagai alat pemerasan terhadap bank swasta. Meski demikian, polisi masih menelusuri sejauh mana data itu benar-benar berhasil diambil dan disalahgunakan.
Kasus ini memunculkan kekhawatiran serius terhadap keamanan data di Indonesia. Pertama, karena klaim peretasan data dengan jumlah jutaan nasabah bisa menggerus kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan. Kedua, karena pelaku terbukti bukan berasal dari kalangan profesional IT, melainkan otodidak yang belajar lewat internet.
Saat ini belum ada komentar