Munir, Suara yang Tak Pernah Padam
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sen, 8 Sep 2025
- comment 0 komentar

Munir, sosok pembela HAM. (Foto VOA)
Munir Said Thalib bukan pejabat, bukan orang kaya. Dia cuma seorang anak Malang, lahir 8 Desember 1965, yang punya satu modal penting: keberanian. Dari bangku kuliah hukum di Universitas Brawijaya, Munir udah dikenal suka “ngeyel” kalau lihat ketidakadilan. Baginya, diam sama dengan merawat kejahatan.
“Kalau kita diam melihat kejahatan, maka kita sedang merawat kejahatan itu.” – Munir
Setelah lulus, Munir gabung dengan LBH Malang. Dari situ, dia turun langsung dampingin rakyat kecil: buruh, petani, sampai korban penggusuran. Keberaniannya makin kelihatan di era reformasi 1998. Dia ikut membongkar kasus penculikan aktivis dan bahkan mendirikan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), organisasi yang sampai sekarang masih jadi benteng isu HAM.
“Munir itu sederhana, gampang ketawa, tapi kalau soal prinsip, dia keras. Dia berani ngomong apa yang orang lain takut ungkap.” Usman Hamid.
Munir memang santai, tapi suaranya bikin penguasa gelisah.

Menolak Lupa, Peringatan 21 Tahun Wafatnya Munir.
Perjalanan Terakhir: Racun di Langit
Tahun 2004, Munir dapat beasiswa ke Belanda. Tapi perjalanan itu berubah jadi tragedi. Tanggal 7 September 2004, Munir terbang dengan Garuda Indonesia menuju Amsterdam via Singapura. Di tengah penerbangan, dia sakit parah dan akhirnya meninggal.
Autopsi Belanda menemukan racun arsenik dosis tinggi di tubuhnya. Dunia gempar. Indonesia berduka. Seorang pembela HAM yang paling lantang justru dibungkam di udara.
Nama Pollycarpus Budihari Priyanto, seorang pilot Garuda, ikut terseret. Pollycarpus disebut ada dalam penerbangan itu padahal bukan jadwalnya. Akhirnya, ia divonis bersalah dan dipenjara. Tapi publik yakin cerita ini belum selesai, ada “aktor besar” yang nggak pernah benar-benar tersentuh hukum.
Misteri dan Peringatan Setiap Tahun
Setelah keluar penjara, Pollycarpus sempat hidup jauh dari sorotan. Hingga tahun 2020, ia meninggal karena sakit di usia 59 tahun. Kepergiannya bikin misteri makin pekat. Banyak yang percaya, sebagian kebenaran ikut terkubur bersama dirinya.
Sementara itu, wafatnya Munir yang jatuh pada 7 September 2004 selalu diperingati setiap tahun. Artinya, tahun 2025 ini genap 21 tahun sejak Munir pergi. Dua dekade lebih sudah berlalu, tapi pertanyaan “siapa dalang utama pembunuhan Munir?” masih menggantung di udara.
“Saya lebih baik mati demi prinsip, daripada hidup dalam penindasan.” – Munir
Kalimat itu kini jadi semacam lilin abadi yang tiap tahun dinyalakan lagi dalam peringatan wafatnya. Dari jalan-jalan kecil di Malang, kantor KontraS di Jakarta, sampai ruang-ruang diskusi anak muda, nama Munir terus dipanggil.
Warisan Buat Generasi Muda
Munir mungkin udah nggak ada, tapi semangatnya tetap menyala. Setiap kali tanggal 7 September datang, kita diingatkan kalau kebebasan dan keadilan nggak pernah datang gratis. Ada yang sudah mengorbankan nyawanya supaya suara rakyat kecil nggak hilang.
Peringatan 21 tahun wafatnya Munir bukan cuma soal mengenang, tapi juga soal menjaga api perjuangan: jangan diam, karena diam artinya merawat kejahatan.
- Penulis: Redaksi









Saat ini belum ada komentar