Rangkaian Kasus Keracunan MBG Bikin Geger, Pemerintah Evaluasi Total
- account_circle Fajar Elang
- calendar_month Kam, 18 Sep 2025
- comment 0 komentar

251 siswa keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kec. Tinangkung, Kota Salakan, Sulawesi Tengah. (Istimewa)
buzzID – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya bikin anak-anak sekolah tambah sehat, malah bikin heboh se-Indonesia. Rangkaian kasus keracunan massal terjadi hampir bersamaan di beberapa daerah mulai dari Banggai Kepulauan (Sulteng), Gunungkidul (DIY), Garut (Jabar), sampai Baubau (Sultra). Netizen ramai-ramai menuntut pemerintah lebih serius soal pengawasan kualitas makanan.
“Arahan Presiden jelas, target kita nol insiden keracunan. Semua rantai distribusi, vendor, dan pengawasan akan diperketat,” Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana (18/09).
Kasus paling besar datang dari Garut, Jawa Barat, 18 September 2025, ratusan siswa juga kena imbas. Menu MBG hari itu nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi. Usai menyantap makanan, puluhan siswa mulai merasakan mual, muntah, dan pusing. Beberapa harus dirujuk ke fasilitas kesehatan karena gejalanya nggak hilang. Polres Garut mencatat 194 orang siswa terdampak terdiri dari 177 siswa mengalami gejala ringan dan 19 siswa menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.
Kapolres Garut, AKB Yugi Bayu Hendarto, menyampaikan bahwa dari total korban, sebagian besar mengalami gejala ringan, sementara 19 siswa lainnya harus menjalani perawatan lebih lanjut di Puskesmas Kadungora.
“Berdasarkan data yang diterima lapangan, kasus dugaan keracunan di Kecamatan Kadungora kembali bertambah menjadi 194 siswa. Dari mereka, 177 siswa mengalami gejala ringan dan 19 orang harus menjalani rawat inap. Karena semua pelajar merasakan gejala pusing, mual, muntah sejak Selasa (16/9), ketika mengonsumsi menu disajikan di program MBG berupa nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi,” katanya, Kamis (18/9).
Program MBG ini merupakan inisiatif dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Al Bayyinah 2 Garut. Menu yang disajikan pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan sayur, dan buah stroberi. Yugi menegaskan bahwa seluruh menu tersebut dikonsumsi oleh para siswa dari keempat sekolah yang ikut dalam program MBG. Tak lama setelah makan, mereka mulai merasakan gejala seperti mual, muntah, dan pusing.
Data korban siswa dan sekolah :
- 12 berasal dari MA Maarif Cilageni
- 3 dari SMP Siti Aisyah
- 3 dari SDN 2 Mandalasari
- 1 dari SMA Siti Aisyah
Sehari sebelumnya, kasus siswa keracunan di Banggai Kepulauan pada Rabu (17/9) membuat heboh jagat maya. Lebih dari 250 siswa dari SD, SMP, SMA, sampai SMK dilarikan ke RSUD Trikora Salakan setelah makan paket MBG dengan lauk ikan cakalang. Suasana RSUD jadi penuh sesak, bahkan sampai harus didirikan tenda darurat di halaman buat triase pasien. Dari total 251 siswa yang dibawa, 173 sudah dipulangkan, sedangkan 78 masih dirawat di ruang observasi. Sekolah yang terdampak termasuk SDN Inpres Tompudau, SMP Negeri 1 Tinangkung, SMA Negeri 1 Tinangkung, SMK Negeri 1 Tinangkung, SDN Pembina, SDN Saiyong, dan MTs Alkhairat Salakan.
Bupati Banggai Kepulauan Rusli Moidady langsung turun tangan dan janji evaluasi total mulai dari vendor penyedia makanan, sistem distribusi, sampai proses penyajian. “Keselamatan anak-anak itu prioritas utama. Kita akan pastikan evaluasi dilakukan menyeluruh supaya kejadian ini nggak terulang,” tegasnya. Kapolres Banggai Kepulauan AKBP Ronaldus Karurukan menambahkan, “Kami sudah ambil sampel makanan, kirim ke BPOM Sulteng, dan tunggu hasil laboratorium untuk pastikan penyebab keracunan.”
Munculnya Kasus Serupa di Wilayah Lain
Secara hampir bersamaan, masalah serupa juga muncul di daerah lain. Gunungkidul, Yogyakarta melaporkan 19 siswa dari tiga sekolah di Kecamatan Semin alami mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri perut setelah makan MBG. Dinas Kesehatan Gunungkidul sudah kirim sampel nasi, ayam karage, semur tahu, tumis wortel, dan melon ke BLKK Jogja untuk diuji (17/09).
Kasus lain datang dari Baubau, Sulawesi Tenggara. Puluhan siswa SMAN 7 Baubau diduga keracunan MBG setelah menyantap ayam kuah yang baunya mulai nggak sedap. Sekolah menghentikan pembagian makanan, tapi beberapa siswa keburu makan. 27 siswa terdampak, beruntung semua sudah dipulangkan setelah perawatan medis (17/09).
Pemerintah Janji Evaluasi Bahan Baku Dapur
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya angkat bicara. Ia blak-blakan soal biang kerok, kualitas bahan baku yang kurang baik, proses pengolahan terlalu lama, distribusi yang tidak cepat dikonsumsi, hingga kondisi penerima manfaat yang mungkin sedang tidak fit. “Arahan Presiden jelas, target kita nol insiden keracunan. Semua rantai distribusi, vendor, dan pengawasan akan diperketat,” katanya. Dadan juga bilang, meski kasusnya “kecil”, dampaknya besar karena bikin kepercayaan publik ke program MBG goyah. (18/09)
Netizen nggak kalah heboh. Banyak yang khawatir dan minta hasil uji lab dan kelayakan dapur diumumkan transparan, vendor nakal dicoret, dan SOP diperketat. Ada juga yang tetap dukung MBG, bilang program ini penting buat bantu anak-anak kurang gizi, tapi pelaksanaannya harus profesional supaya kejadian kayak gini nggak terulang.
- Penulis: Fajar Elang









Saat ini belum ada komentar