Sabtu, 4 Apr 2026
light_mode
Beranda » Sport » Rizky Ridho : “Kami Sudah Berjuang Sepenuh Hati”

Rizky Ridho : “Kami Sudah Berjuang Sepenuh Hati”

  • account_circle Gerard F
  • calendar_month Sen, 13 Okt 2025
  • comment 0 komentar

Mimpi Timnas Indonesia menatap panggung Piala Dunia 2026 kandas pahit ketika mereka tunduk 0-1 dari Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, dini hari Minggu (12 Oktober 2025). Gol tunggal dari Zidane Iqbal cukup memupus harapan Garuda setelah melewati lini belakang yang rapuh dan salah satu sorotan tajam jatuh kepada bek muda, Rizky Ridho, yang dianggap melakukan blunder fatal dalam proses terjadinya gol itu.

Ridho, yang tampil sebagai starter dan salah satu pemain paling berpengalaman di skuad muda Indonesia, menguasai bola terlalu lama di area pertahanannya sekitar menit ke-75. Dalam tekanan pemain Irak, ia kehilangan kontrol, memberikan ruang untuk serangan cepat, dan kemudian umpan salahnya memungkinkan lawan menerobos lini belakang. Kesalahan ini kemudian dimanfaatkan untuk membangun peluang yang berujung ke gawang gol penentu kekalahan.

Kekalahan tipis 0-1 dari Irak menjadi akhir dari perjalanan panjang Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Laga yang berlangsung di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, menjadi momen pahit bagi seluruh pemain dan pendukung Tanah Air. Gol tunggal Irak dicetak oleh Zidane Iqbal, pemain muda yang memanfaatkan kesalahan di lini belakang Indonesia. Hasil tersebut membuat Indonesia menutup babak keempat sebagai juru kunci Grup B tanpa satu pun poin, mengakhiri mimpi besar tampil di ajang sepak bola terbesar dunia.

Suasana laga Timnas Indonesia vs irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026. (Foto: Instagram/iraqnt_en)

Tim Merah Putih sebenarnya tampil lebih dominan di laga ini dengan 56 persen penguasaan bola dibanding Irak yang hanya 44 persen. Indonesia juga lebih banyak melepas tembakan dengan sembilan percobaan dengan Irak hanya tujuh sepakan.

Kekalahan ini menempatkan Indonesia di posisi juru kunci Grup B dengan nol poin dari dua pertandingan. Sebelumnya, tim asuhan Patrick Kluivert juga harus mengakui keunggulan Arab Saudi dengan skor 2-3. Hasil tersebut menutup peluang Garuda untuk bersaing merebut posisi juara grup yang menjadi tiket langsung ke Piala Dunia 2026.

Meski begitulah narasi yang banyak dikedepankan media dan pengamat, catatan statistik tidak sepenuhnya menghitamkan performanya. Dalam pertandingan itu, Ridho tercatat memiliki 14 kontribusi defensif termasuk tekel, sapuan, intersep, blok, dan upaya penyelamatan. Meskipun blunder itu memicu gol Irak, kontribusinya tak bisa diabaikan. Statistik defensifnya tetap kuat.Namun dalam sepak bola, satu momen kecil bisa menutupi kerja keras 90 menit.

Melalui unggahan di Instagram pribadinya, Ridho menulis pesan yang penuh makna dan menggugah emosi. Ia membagikan potret perjalanan Timnas Indonesia sejak babak awal kualifikasi hingga laga terakhir melawan Irak.

“Perjalanan panjang ini harus terhenti sebelum waktunya, tidak seperti harapan dan mimpi kita semua. Sampai di titik ini tidaklah mudah, tapi kami selalu berusaha memberikan segalanya untuk negeri ini,” tulis Ridho.

“Perjalanan yang sangat panjang ini harus berhenti, tidak sesuai dengan harapan dan mimpi kita semua. … Mohon maaf, kami belum bisa mewujudkan mimpi kalian semua.” Rizky Ridho.

Keunggulan Irak dengan skor 1-0 pun bertahan hingga laga usai sekaligus memupus harapan Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.

Indonesia kini terpuruk di dasar klasemen Grup B tanpa perolehan poin setelah menelan dua kekalahan beruntun. Sebelum takluk dari Irak, tim Merah Putih kalah 2-3 dari tuan rumah Arab Saudi.

Alhasil puncak klasemen dipimpin Arab Saudi yang unggul produktivitas gol dari Irak. Posisi juara grup akan ditentukan saat Arab Saudi bersua Irak pada Selasa nanti (14/10).

4 Blunder Timnas Indonesia di Babak 4: Kluivert hingga Rizky Ridho

Timnas Indonesia jadi juru kunci klasemen Grup B usai kalah dari Irak. (REUTERS/Stringer)

Dirangkum dari CNN Indonesia, ada detail-detail dalam permainan yang membuat Timnas Indonesia kalah dalam dua laga krusial pada fase keempat kualifikasi Piala Dunia 2026.

1. Patrick Kluivert

Kluivert langsung mendapat sorotan tajam setelah Timnas Indonesia kalah dari Arab Saudi. Penentuan pemain jadi pangkal masalah.

Menempatkan Yakob Sayuri sebagai full back membuat orang-orang ‘tak habis pikir’. Yakob yang biasa menjadi gelandang sayap atau penyerang sayap ditugaskan menjadi salah satu dari kuartet lini pertahanan.

Pemain Malut United itu sempat beberapa kali menjadi bek, namun wing back bukan full back. Posisi wing back masih cenderung aman apabila ditinggal sang pemain maju menyerang karena biasanya wing back digunakan dalam formasi 3-5-2 yang bisa bertansformasi menjadi 5-3-2.

Selain itu Kluivert juga dianggap melakukan blunder ketika memainkan Marc Klok dan Beckham Putra Nugraha. Penilaian Kluivert terhadap dua pemain itu dipandang tak tepat.

Selain itu Kluivert pun disorot karena tetap memainkan Marc hingga 90 menit. Padahal eks pemain PSM ini jauh berada di bawah performa terbaik saat menghadapi Green Falcons.

2. Yakob Sayuri

Saudara kembar Yance Sayuri ini melakukan kesalahan menarik jersey lawan di kotak 16. Kesalahan tersebut berakibat fatal lantaran berbuntut penalti untuk Arab Saudi. Yakob agak gagap menjalani peran baru sebagai full back lantaran terbiasa aktif menyerang sebagai winger.

3. Marc Klok

Keberadaan Marc di lini tengah skuad Garuda tidak mendapat apresiasi positif karena kualitas permainan gelandang Persib ini tidak optimal. Marc tidak dapat menjaga alur distribusi bola sehingga gagal menjadi penyambung permainan antara lini belakang dan depan. Sebuah kesalahan dalam membuang bola yang berujung gol Saudi pun jadi nilai minus pemain 32 tahun ini.

4. Rizky Ridho

Kerap mendapat sanjungan lantaran performa apik nan elegan saat membela Timnas Indonesia, Ridho membuat kesalahan saat melawan Irak. Bola yang hilang dari kakinya kemudian mengawali serangan Irak yang berujung gol. Kendati bek Persija ini tampil cukup baik di sisa laga, namun keteledoran yang menjadi titik awal gol Irak harus menjadi evaluasi demi karier yang gemilang di masa depan.

  • Penulis: Gerard F

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Buzz

  • Aksi Mahasiswa Piknik di DPR, Bebaskan Tahanan Politik

    Aksi Mahasiswa Piknik di DPR, Bebaskan Tahanan Politik

    • calendar_month Sen, 6 Okt 2025
    • account_circle Gerard F
    • visibility 107
    • 0Komentar

    buzzID – Jakarta. Pemandangan tak biasa muncul di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan. Ribuan massa dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat menggelar aksi bertajuk “” pada Senin sore (6/10). Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar Rapat Dengar Pendapat Warga (RDPW) dengan konsep ‘piknik demokrasi’. Namun, alih-alih orasi panas atau barisan polisi berhadap-hadapan, aksi ini justru […]

  • Mercy Baru di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

    Mercy Baru di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle Fajar Elang
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Sidoarjo — Di tengah proses evakuasi puing-puing musala Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, petugas gabungan menemukan sebuah mobil mewah terkapar di bawah reruntuhan beton. Mobil tersebut diduga Mercedes-Benz berwarna hitam dan kondisinya ringsek parah. Penemuan itu menambah deretan tragedi menyentak dari ambruknya musala yang telah menewaskan puluhan orang. Mobil itu dievakuasi pada Sabtu, 4 […]

  • Che Guevara: 58 Tahun Setelah Peluru di La Higuera, Api Revolusi Itu Belum Padam

    Che Guevara: 58 Tahun Setelah Peluru di La Higuera, Api Revolusi Itu Belum Padam

    • calendar_month Sab, 11 Okt 2025
    • account_circle Fajar Elang
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Pagi di La Higuera, Bolivia, 9 Oktober 1967, udara dingin menembus dinding sekolah tua yang dijadikan markas tentara. Di ruang kecil itu, seorang tawanan berdiri tegap meski tubuhnya babak belur. Namanya Ernesto “Che” Guevara. Wajahnya penuh luka, tapi sorot matanya masih menyala. Beberapa menit kemudian, peluru menembus dadanya. “Aku tahu kau datang untuk membunuhku,” katanya […]

  • Nadeim Makarim dijerat pasal korupsi sebesar 1.,98 Triliun

    Wow, Nadiem Makarim Tersangka Korupsi 1,98 Triliun

    • calendar_month Kam, 4 Sep 2025
    • account_circle Fajar Elang
    • visibility 114
    • 0Komentar

    buzzID – Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan mantan Mendikbudristek, Nadiem Makarim, sebagai tersangka baru. Kabar ini pun mulai menghebohkan linimasa media sosial. “Telah menetapkan tersangka baru dengan inisial NAM,” kata Kapuspenkum Kejagung Anang Supriatna dalam jumpa pers di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (4/9/2025). Siapa sih yang gak kenal Nadiem Makarim?Dulu dia dilihat sebagai golden […]

  • Kata-Kata Pertama Patrick Kluivert Usai Berpisah dengan Timnas Indonesia

    Kata-Kata Pertama Patrick Kluivert Usai Berpisah dengan Timnas Indonesia

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Gerard F
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Jakarta – Patrick Kluivert akhirnya resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia. Keputusan ini diumumkan pada Kamis, 16 Oktober 2025, setelah PSSI dan Kluivert sepakat untuk mengakhiri kerja sama secara baik-baik. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Kluivert menyampaikan pesan emosional yang menunjukkan kekecewaan sekaligus rasa bangganya atas perjalanan bersama skuad Garuda. “Meskipun […]

  • Drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang

    Petang di Taman: Ketika Naskah Avant-Garde Iwan Simatupang Bertemu Distopia Modern

    • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 121
    • 0Komentar

    buzzID, Jakarta– Anteater, sebuah laboratorium untuk eksperimen karya, pada tahun ini mempersembahkan pementasan teater dengan judul “Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng”. Pertunjukan ini merupakan reinterpretasi kontemporer dari naskah avant-garde legendaris karya maestro sastra Indonesia, Iwan Simatupang, yang ditulis pada tahun 1966. Naskah orisinal “Petang di Taman” mengisahkan sebuah taman yang menjadi saksi pertemuan empat […]

expand_less