Supreme : Dari Skate Shop Pinggir Jalan Jadi Raja Streetwear Dunia
- account_circle Fajar Elang
- calendar_month Kam, 4 Sep 2025
- comment 0 komentar

Supreme Store Miami.
Strategi kelangkaan bikin barang Supreme jadi kayak aset investasi. Hoodie retail $150 bisa naik jadi ribuan dolar di pasar resell.
buzzID – Kalau ngomongin streetwear, gak mungkin gak nyebut Supreme. Brand asal New York ini udah jadi legenda: dari toko kecil buat anak skate tahun 90-an, sekarang jadi ikon budaya pop yang dipuja (dan kadang dibenci) di seluruh dunia.
Dari Skater ke Superstar
Supreme lahir tahun 1994 di tangan James Jebbia. Toko pertamanya di Manhattan didesain unik: produk di sisi dinding, tengahnya kosong biar anak skate bisa masuk sambil bawa papan. Dari situ lahirlah vibe “buat komunitas, dari komunitas”.
Logonya? Kotak merah dengan tulisan putih simpel yang terinspirasi dari seni Barbara Kruger. Minimalis, tapi langsung nempel di kepala.
Supreme gak jual baju doang. Mereka jual gaya hidup. Desainnya sering nyenggol pop culture, film, musik, kartun, sampai politik. Dan yang bikin nagih: produk mereka selalu limited edition.
Inilah yang bikin muncul fenomena drop culture. Tiap Kamis ada rilisan baru, fans rela antri berjam-jam di depan store atau perang klik di website. Barang ludes dalam hitungan menit.

Supreme Nike SB Dunk Low 2025. (Sneakers News)
Kolaborasi yang Gak Masuk Akal
Kalau soal kolaborasi, Supreme udah kayak “tukang kawin silang” dunia fashion. Dari brand skate sampai luxury semua udah diajak main:
-
Nike SB Dunk yang jadi holy grail sneakerhead.
-
The North Face dengan jaket outdoor yang jadi item wajib hypebeast.
-
Louis Vuitton (2017) yang bikin fashion elit dan street nyatu.
-
Bahkan Oreo pun pernah jadi Supreme (yes, biskuit merah itu ada dan dijual mahal di eBay).
Strategi kelangkaan bikin barang Supreme jadi kayak aset investasi. Hoodie retail $150 bisa naik jadi ribuan dolar di pasar resell. Fenomena ini bikin Supreme jadi motor penggerak ekonomi hype, ngasih ruang buat resell culture tumbuh gede-gedean. Supreme makin gede sampai akhirnya dibeli VF Corporation (pemilik The North Face, Vans, Timberland) tahun 2020 seharga $2,1 miliar. Gila kan, brand yang dulu buat anak skate pinggiran jalan sekarang masuk ke meja korporasi miliaran dolar.
Di satu sisi, Supreme dipuja karena berani, kreatif, dan selalu relevan. Di sisi lain, banyak yang nyinyir: katanya cuma jual logo kotak merah. Ada juga yang bilang Supreme udah jauh dari akar skate-nya. Tapi ya, mau lo suka atau enggak, Supreme udah jadi ikon generasi. Dari jalanan New York ke runway Paris, dari hoodie ke Oreo, Supreme buktiin satu hal: hype itu bisa jadi budaya.
Drop Koleksi Fall/Winter 2025
Supreme baru aja ngerilis koleksi Fall/Winter 2025 yang nyeleneh abis. Gak cuma jaket dan hoodie khas mereka, tapi juga barang-barang random kayak golf cart, bowling ball, sampai desk toys. Collab-nya pun makin beragam, dari GORE-TEX, Wu-Tang Clan, sampai film klasik “The Exorcist.”
Tahun ini sneakerhead dimanjain banget:
-
Supreme x Nike SB Dunk Low rilis 5 warna, 2 global drop dan 3 eksklusif regional (Asia, Eropa, Amerika Utara). Resmi turun 4 September 2025, siap bikin antrian panjang.
-
Supreme x Nike Air Max 1 meluncur Maret 2025, dengan material premium dan detail mewah.
-
Supreme x Goodenough x Nike Air Force 1 hadir Juni 2025, triple collab langka dengan motif leopard yang udah jadi wishlist banyak kolektor.
Supreme tetap main santai soal ekspansi. Total toko mereka sekarang cuma 18 store di seluruh dunia. Yang terbaru? Miami, dengan konsep “floating skate bowl” yang lebih mirip art installation daripada toko biasa. Lagi-lagi, Supreme nunjukin kalau belanja di store mereka itu bagian dari experience, bukan sekadar retail.
Drama di Balik Layar
Tapi nggak semua berita manis. Skater bintang Tyshawn Jones baru aja gugat Supreme senilai $26 juta. Alasannya? Dia klaim kontraknya diputus sepihak dan “menghancurkan kariernya.” Drama ini bikin nama Supreme makin panas, bukan cuma di fashion, tapi juga di headline hukum.

Supreme Unveils Spring/Summer 2025 Collection (maxim)
Supreme di Budaya Pop
Selain produk dan drama, Supreme juga makin masuk ke ranah mainstream culture. Tahun ini ESPN bahkan siap ngerilis dokudrama tentang perjalanan Supreme sebagai bagian dari seri 30 for 30 “Empire Skate.” Dari skate culture ke budaya global, Supreme kayaknya belum ada tanda-tanda kehilangan spotlight.
Supreme masih jadi “holy grail” streetwear? Atau hype-nya udah mulai basi?
Jadi, menurut lo, Supreme masih keren karena vibe aslinya? Atau udah jadi korban hype yang “jual nama doang”?
- Penulis: Fajar Elang









Saat ini belum ada komentar