Netizen Tagih Janji Evaluasi Tunjangan Rumah DPRD DKI
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 6 Sep 2025
- comment 0 komentar

DPRD DKI Jakarta tengan disrot publik terkait tunjangan perumahan yang mencapai 78 juta per bulan. (Foto Tribun Bekasi)
buzzID – Jakarta, Timeline X dan Instagram lagi panas. Warganet rame-rame nagih janji soal evaluasi tunjangan rumah DPRD DKI Jakarta yang nilainya tembus Rp70–78 juta per bulan. “Katanya mau dievaluasi, kok masih adem-adem aja?” tulis akun @jakartanspeak. Ada juga yang nyeletuk, “Tunjangan rumahnya gede banget, kalau dipangkas bisa buat beasiswa satu kampus.”
Publik makin heboh karena angka ini lebih tinggi daripada DPR RI yang sekitar Rp50 juta per bulan. Buat pimpinan DPRD DKI, tunjangannya Rp78,8 juta/bulan, sedangkan anggota biasa Rp70,4 juta/bulan.
Wakil Ketua DPRD DKI, Ima Mahdiah, pada 4 September 2025 silam udah bilang kalau tunjangan ini masih dibahas. “Tunjangan rumah ini memang lagi dievaluasi. Kita akan sesuaikan dengan kemampuan PAD (Pendapatan Asli Daerah) DKI Jakarta. Kalau memang perlu dikurangi, akan kita sesuaikan,” jelas Ima.
Hal senada diungkapkan Basri Baco, Wakil Ketua DPRD lainnya, pada tanggal yang sama. “Semua fraksi setuju bahwa tunjangan rumah harus direview ulang. Kita juga ingin ada transparansi biar masyarakat tahu berapa sebenarnya gaji dan tunjangan dewan,” ujarnya.
Ima menambahkan, sejak periode pertamanya DPRD DKI udah terbuka soal data gaji dan tunjangan. “Semua laporan gaji dan tunjangan sudah dipublikasikan. Jadi siapa pun bisa cek dan ricek, tidak ada yang ditutup-tutupi,” katanya.

Massa Demo di depan DPRD DKI Jakarta, minta transparansi tunjangan tumah Rp 70 Juta,. (Foto Warta Kota/Yolanda)
Komentar DPRD emang udah keluar tanggal 4 September kemarin. Tapi sekarang, 6 September 2025, netizen lagi rame nagih realisasi. Evaluasi beneran jalan, atau cuma janji-janji manis. Kalau beneran dipangkas, warganet bisa agak adem. Reaksi publik beragam. Ada yang merasa nominalnya terlalu tinggi dibandingkan kondisi warga, tapi ada juga yang mengingatkan bahwa semua ini berjalan sesuai aturan yang berlaku. DPRD DKI pun menyampaikan kesediaan mereka untuk dievaluasi, artinya masih terbuka ruang diskusi dan perbaikan ke depan.
Angka yang lumayan bikin kaget ini sebenarnya bukan aturan baru, tapi sudah diatur sejak era Gubernur Anies Baswedan lewat Keputusan Gubernur 415/2022. Aturannya jelas, kalau pemerintah daerah belum bisa menyediakan rumah dinas, maka dewan dapat kompensasi berupa uang sewa rumah.
Tahun ini, Jakarta ngantongin anggaran super jumbo, nilainya tembus Rp91,34 triliun. Pendapatan daerah sekitar Rp81,68 triliun, belanja daerah di angka Rp82 triliun. Dari duit segede itu, pos terbesar lari ke pendidikan (sekitar 25%) dan infrastruktur (lebih dari 40%). Ada juga buat kesehatan, transportasi umum, penanganan banjir, sampai program makan bergizi gratis buat anak sekolah.
Sampai pertengahan tahun, realisasi APBD udah lumayan kenceng: pendapatan udah nyampe Rp43,65 triliun (56% target), belanja sekitar Rp30,95 triliun (37% target). Bahkan Pemprov lagi coba efisiensi sekitar Rp1,5 triliun dari biaya seremonial, perjalanan dinas, dan honor supaya lebih banyak dana dialokasikan ke pelayanan publik. Jadi, APBD DKI emang gede, tapi penggunaannya juga lagi ketat dipantau.
- Penulis: Redaksi



Saat ini belum ada komentar