Maulid Nabi 2025 di Bali : Dari Parade Telur, Harmoni Budaya, sampai Long Weekend Seru
- account_circle Redaksi
- calendar_month Sab, 6 Sep 2025
- comment 0 komentar

Perayaan Maulid Nabi di Bali. (Foto : Bali Express)
buzzID – Kalau ngomongin Bali, yang langsung kebayang biasanya pantai, pura, sama vibes liburan. Tapi ada satu sisi lain yang nggak banyak orang tau, Bali juga punya tradisi Islam yang kuat dan unik. Salah satu momen paling kerasa adalah saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini jatuh di Jumat, 5 September 2025, pas banget jadi long weekend. Nah, kebayang kan? Perayaan religius, budaya, nuasana liburan jadi kombo yang sempurna.
Kepaon : Pawai Taaruf dan Telur Berkah
Perjalanan kita mulai dari Kampung Muslim Kepaon, Denpasar. Dari pagi, jalanan kampung udah rame. Anak-anak pakai baju muslim rapi, ibu-ibu bawa hidangan, bapak-bapak sibuk ngatur pawai. Musik rodat mengalun, bikin suasana makin meriah.
Ada prosesi spesial juga, tujuh bulanan buat ibu hamil, tiga bulanan buat bayi, dan gundul-botong alias potong rambut. Semua dilakukan dalam nuansa syukur. Setelah doa-doa dipanjatkan, tibalah momen yang ditunggu anak-anak: pembagian telur. Telur yang dihias cantik dibagikan ke semua orang, simbol keberkahan sekaligus doa agar hidup penuh rezeki. Anak-anak sampai heboh berebut, bikin suasana jadi campur antara sakral dan playful.
Jembrana : Parade “Male” yang Estetik
Lanjut ke Loloan Timur, Jembrana. Di sini, tradisi Maulid punya ciri khas yang bikin orang luar takjub “Male”. Male ini hiasan telur yang disusun kreatif. Bayangin, ada yang bentuknya kayak bonsai mini, ada yang mirip buah, bahkan ada juga yang kayak perahu kecil. Semua dihias warna-warni, estetik banget buat difoto.
Prosesi dimulai dengan arak-arakan, diiringi musik hadrah. Warga bawa male dengan penuh semangat, kayak pawai seni modern tapi rooted di tradisi. Setelah selesai, telur-telur dari male dibagikan ke warga, lagi-lagi simbol berbagi rezeki.
Ada satu momen khas yang selalu bikin orang ngakak sekaligus terharu: taburan beras kuning campur uang logam. Anak-anak langsung lompat berebut, bahkan kadang orang tua pun ikutan. Simbolnya sederhana bahwa rezeki itu datang dari mana aja, dan harus disambut dengan syukur. Seru banget, kayak mini festival ekonomi rakyat.
Buat warga Jembrana, tradisi ini lebih dari sekadar seremoni. Male bahkan sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda. Artinya, pemerintah mengakui bahwa tradisi ini punya nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang harus dijaga. Jadi nggak heran tiap tahun warga totalitas ngerayain.
Buleleng : Sokok Taluh, Harmoni Budaya Bali
Di utara Bali, tepatnya di Kampung Bugis, Buleleng, tradisi Maulid juga punya warna sendiri. Di sini ada “sokok taluh”, yaitu pajengan telur yang disusun tinggi kayak gunungan atau gebogan khas umat Hindu Bali.
Simbol ini jadi pengingat bahwa Islam di Bali nggak berdiri sendiri, tapi hidup berdampingan dengan budaya lokal. Bayangin, gebogan yang biasanya dipakai di upacara Hindu dipadukan dengan tradisi Maulid Nabi. Hasilnya, sebuah harmoni visual yang keren banget, memperlihatkan kalau toleransi dan kebersamaan itu udah mengakar sejak lama.
Kalau kita zoom out, tradisi Maulid di Bali sebenarnya bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa. Di Jawa ada Grebeg Maulud dengan gunungan hasil bumi. Di Padang Pariaman ada Malamang, di mana warga masak lemang bersama. Di Magelang ada Grebeg Pisang yang penuh simbol kesuburan. Di Cirebon, ada Panjang Jimat dengan ritual panjang penuh doa.
Beda daerah, beda cara. Tapi intinya sama: merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan cara yang paling membumi, paling dekat sama keseharian masyarakat. Kebetulan tahun ini, Maulid Nabi jatuh di hari Jumat. Jadilah long weekend! Banyak orang yang habis ikut tradisi Maulid, langsung lanjut liburan. Di Bali, itu berarti pantai makin rame, café makin penuh, dan jalanan mungkin agak macet tapi vibes-nya tetep asik.
Turis lokal dan mancanegara juga banyak yang kaget lihat perayaan ini. Mereka biasanya taunya Bali identik sama pura dan Hindu, tapi ternyata ada juga tradisi Islam yang kaya warna. Banyak yang akhirnya ikutan nonton, foto-foto, bahkan belajar soal makna di balik telur, pawai, dan gebogan khas Muslim Bali.
Akhirnya kita bisa lihat, Maulid Nabi di Bali 2025 itu bukan sekadar ritual keagamaan. Dia jadi ajang kumpul keluarga, momen edukasi budaya, bahkan daya tarik wisata. Dari pawai di Denpasar, male estetik di Jembrana, sampai sokok taluh di Buleleng, semuanya nunjukin satu hal: keragaman Indonesia itu nyata, hidup, dan indah.
Dan tahun ini, dengan vibes long weekend, Maulid di Bali jadi makin spesial. Orang nggak cuma pulang dengan hati tenang karena doa, tapi juga dengan pengalaman unik yang nggak bakal dilupain. Singkatnya telur, musik, pawai, dan harmoni budaya bikin Maulid Nabi di Bali jadi lebih dari sekadar perayaan tapi juga sebuah cerita kebersamaan yang layak dirayakan bareng-bareng.
- Penulis: Redaksi









Saat ini belum ada komentar