Sabtu, 23 Mei 2026
light_mode
Beranda » Society » Event » Petang di Taman: Ketika Naskah Avant-Garde Iwan Simatupang Bertemu Distopia Modern

Petang di Taman: Ketika Naskah Avant-Garde Iwan Simatupang Bertemu Distopia Modern

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rab, 17 Sep 2025
  • comment 0 komentar

buzzID, Jakarta– Anteater, sebuah laboratorium untuk eksperimen karya, pada tahun ini mempersembahkan pementasan teater dengan judul “Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng”. Pertunjukan ini merupakan reinterpretasi kontemporer dari naskah avant-garde legendaris karya maestro sastra Indonesia, Iwan Simatupang, yang ditulis pada tahun 1966. Naskah orisinal “Petang di Taman” mengisahkan sebuah taman yang menjadi saksi pertemuan empat karakter yang bergumul dengan keresahan eksistensial mereka: Lelaki Muda yang memberontak, Lelaki Tua yang terjebak masa lalu, Pecinta Balon yang mewakili anomali kekuasaan, dan Perempuan yang bergulat-tak-henti dengan trauma. Di tangan sutradara Ardianti Permata Ayu dan Dramaturg Heri Purwoko, naskah ini dihidupkan kembali dengan latar distopia yang suram, mencerminkan realitas dunia saat ini yang dikuasai ketamakan dan ketidakpedulian terhadap alam. Panggung diubah menjadi tempat penampungan sampah plastik dan elektronik, menjadi kritik tajam tentang kondisi manusia di tengah dunia yang rusak.

Pertunjukan drama Petang di Taman.

Pertunjukan drama Petang di Taman. (Istimewa)

Skenografi yang dihadirkan Anteater dirancang untuk memperkuat kesan kelam dan tanpa harapan. Penonton dapat menemukan bongkahan sampah dalam bentuk kardus, kemasan plastik, serta ban-ban usang sebagai tempat duduk dan tanaman. Atmosfer ini didukung oleh penataan suara oleh Derick Adeboi yang menciptakan lanskap audio disonan dari suara metal, desau angin, dan petir. Para pemain, termasuk Heri Purwoko, Idham Aulia Shaffansyah, Septiadi, Sukendi, dan Pracista Dhira Prameswari, menghidupkan kembali karakter-karakter ikonik ini dengan kedalaman emosional yang relevan, tentunya dengan bantuan sentuhan Khairunnisah pada tata rias dan kostum.

“Petang di Taman” adalah lebih dari sekadar pertunjukan teater; ia adalah sebuah perjalanan introspektif yang mengundang penonton untuk merenungkan makna dan absurditas kehidupan. Ketika “taman” dalam pementasan Iwan Simatupang adalah sebuah panggung tempat keresahan absurd, di sisi lain demonstrasi akhir Agustus 2025 di jalanan, yang dimulai dari tuntutan buruh, ojek daring, hingga mahasiswa, membuktikan bahwa “taman” yang sesungguhnya kini adalah ruang publik, di mana keresahan rakyat tak lagi filosofis, tetapi nyata dan menuntut keadilan, sebuah cerminan dari naskah yang menjadi realitas distopia (Tempo, 31 Agustus 2025). Tuntutan reformasi DPR, penolakan kenaikan tunjangan, dan desakan pengusutan kasus kekerasan aparat (Kumparan, 29 Agustus 2025) menunjukkan bahwa dialog yang seharusnya terjadi di parlemen kini harus diungkapkan melalui suara keras di jalanan, menciptakan panggung dramatis yang penuh ketegangan, seperti yang disampaikan oleh berbagai media terkemuka. Pementasan Petang di Taman: Sepenggal Filsafat Iseng oleh Anteater ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Teater Jakarta Selatan (FTJS) dan digelar pada Selasa, 15 September 2025 pukul 19.30 WIB di Gedung Pertunjukan Bulungan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan. FTJS sendiri terselenggara berkat kerjasama Suku Dinas Kebudayaan Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan SINTESA yang merupakan asosiasi teater wilayah Jakarta Selatan.

Kelompok teater kolaboratif, Anteater Experiment menghidupkan lagi absurditas drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang di Gedung Pertunjukan Bulungan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan

Kelompok teater kolaboratif, Anteater Experiment menghidupkan lagi absurditas drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang di Gedung Pertunjukan Bulungan, Gelanggang Remaja Jakarta Selatan,. (Istimewa)

TENTANG ANTEATER EXPERIMENT

Anteater Experiment adalah wadah kreatif yang terdiri dari individu-individu dengan beragam latar belakang disiplin ilmu, dari akademisi hingga jurnalis, yang bersatu untuk menciptakan karya-karya visual dan pertunjukan yang provokatif. Pementasan ini menjadi bukti komitmen mereka untuk terus bereksperimen dan menghadirkan gagasan-gagasan segar ke dunia seni pertunjukan Indonesia.

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Buzz

  • Sheila on 7 Dipastikan Tampil di Hari Kedua KLBB Festival 2026

    Sheila on 7 Dipastikan Tampil di Hari Kedua KLBB Festival 2026

    • calendar_month Sel, 24 Feb 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Kabar yang sudah ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sheila on 7 resmi dipastikan menjadi salah satu penampil di hari kedua KLBB (Kapan lagi Buka Bareng) Festival 2026 yang akan digelar di Stadion Madya GBK, Jakarta, pada 28 Februari hingga 1 Maret 2026. Kepastian ini langsung disambut antusias para penggemar yang sudah lama menantikan aksi panggung band […]

  • Jelang Tayang di AS, Demon Slayer: Infinity Castle Rilis Trailer lagi

    Jelang Tayang di AS, Demon Slayer: Infinity Castle Rilis Trailer lagi

    • calendar_month Sen, 1 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Jakarta – Movie Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle segera menyapa penonton di AS. Teaser terbaru pun dirilis yang ungkap alasan sebenarnya dari Shinobu Kocho bisa jadi Hashira Serangga. Teaser yang diposting sebagai bagian dari kampanye promosi. Di trailer pertamanya, ada dua pertempuran besar terungkap buat ngelawan Iblis Upper Moon Tingkat Dua dan Tiga, ada Tanjiro Kamado dan Giyu […]

  • Tayangan Trans7 Soal Santri Picu Gelombang Protes

    Tayangan Trans7 Soal Santri Picu Gelombang Protes

    • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
    • account_circle Velope Zaskya
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Jakarta, 16 Oktober 2025 — Program Xpose Uncensored yang ditayangkan Trans7 pada awal pekan ini memicu reaksi keras dari kalangan pesantren di berbagai daerah. Tayangan yang membahas tradisi penghormatan santri terhadap kiai dinilai menyinggung nilai-nilai luhur kehidupan pesantren, terutama Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri. Kontroversi bermula pada 13 Oktober 2025, saat segmen tersebut ditayangkan dalam […]

  • Banjir Besar Semarang: Dua Warga Tewas, Dua Anak Hanyut

    Banjir Besar Semarang: Dua Warga Tewas, Dua Anak Hanyut

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle Gerard F
    • visibility 126
    • 0Komentar

    buzzID — Banjir besar melanda sejumlah wilayah di Kota Semarang sejak akhir pekan lalu hingga Selasa (28/10/2025), setelah hujan deras mengguyur kawasan Pantura dan daerah sekitar Kaligawe. Peristiwa ini menelan korban jiwa, menyebabkan dua warga meninggal dunia dan dua anak dilaporkan hanyut terbawa arus. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang melaporkan korban tewas terdiri […]

  • Dedi Mulyadi dan Mahasiswa Berdialog di Gedung Sate. Foto : tribun.

    Dedi Mulyadi : “Bebasin Dong Mahasiswa yang Nggak Kriminal!”

    • calendar_month Rab, 3 Sep 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    buzzID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi lagi jadi omongan, bukan cuma karena statementnya yang nyentuh soal mahasiswa ditahan, tapi juga cara dia nge-handle aspirasi anak muda. Setelah demo 29–31 Agustus yang bikin 147 mahasiswa ditangkap (37 di antaranya masih di bawah umur), Dedi langsung ngegas minta Kapolda Jabar ngebebasin mereka yang nggak terbukti kriminal. […]

  • Aksi awal protes GenZ Nepal akibat pemblokiran medsos yang akhirnya meluas membawa tema Nepo Babies

    Demo Nepal, GenZ tumbangkan Pemerintahan Komunis

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle Fajar Elang
    • visibility 304
    • 0Komentar

    buzzID – Nepal, 8–11 September 2025. Jalanan Kathmandu dan kota-kota besar Nepal udah kayak “arena perang” versi real life. Ribuan anak muda, kebanyakan Gen Z, turun ke jalan protes ke pemerintah. Pemicunya, larangan media sosial yang dianggap mengekang kebebasan berekspresi, ditambah isu klasik: korupsi, ketimpangan, dan elite politik hidup mewah. Apa yang Sebenarnya Terjadi? Pada […]

expand_less