Aksi Demonstrasi di Depan Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (6/10/2025). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
buzzID – Jakarta. Pemandangan tak biasa muncul di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan. Ribuan massa dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat menggelar aksi bertajuk “” pada Senin sore (6/10). Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menggelar Rapat Dengar Pendapat Warga (RDPW) dengan konsep ‘piknik demokrasi’.
Namun, alih-alih orasi panas atau barisan polisi berhadap-hadapan, aksi ini justru dipenuhi tawa, musik, dan spanduk nyeleneh. Di tengah panasnya aspal Jakarta, mereka membawa kolam pancing mainan, meja pasang kutek gratis, dan tikar piknik simbol kritik damai terhadap parlemen yang dinilai kian jauh dari rakyat.

Cat kuku dalam aksi ‘piknik’ di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (6/10/2025). Foto Tribun.
“Kami ingin mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia kepada mereka yang masih peduli mereka yang aktivis di seluruh Indonesia untuk memperbanyak titik-titik seperti ini memperbanyak aksi seperti ini,” ujar Ketua BEM UI, Zayyid Sulthan Rahman.
“Kami ingin mencoba menjadi contoh atau seenggaknya memantik kawan-kawan di seluruh Indonesia bagaimana model aksi tidak hanya terpaku sama satu bentuk saja. Konsepnya campuran piknik, aksi massa, sekaligus kami rapat dengar pendapat warga,” jelasnya.
Meski DPR RI tengah memasuki masa reses mulai 3 Oktober 2025 lalu, Ketua BEM UI, Zayyid Sulthan Rahman, mengatakan pihaknya justru menggunakan kesempatan tersebut untuk mengundang para anggota dewan untuk berdiskusi.
Dari Kutek Hingga Kritik Makan Bergizi Gratis
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana “demo rasa festival”. Sejumlah peserta menenteng poster-poster satire dengan tulisan unik seperti:
“Ku bisa tenggelam di lautan, aku bisa diracun di MBG” merujuk pada sindiran program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Penyitaan buku adalah tanda ketakutan negara pada pengetahuan.”

Aksi ‘piknik’ di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (6/10/2025). (Tribunnews.com/Alfarizy)
Kegiatan ringan seperti mewarnai kuku, bermain musik akustik, hingga memancing ikan plastik di ember menjadi cara simbolik peserta menyampaikan kritik: politik hari ini dianggap terlalu “dangkal”, seperti permainan anak-anak.
Meski santai, aksi ini tidak kehilangan arah. Pada pukul 16.00 WIB, massa berkumpul untuk membacakan tiga tuntutan utama, dipimpin perwakilan dari beberapa kampus besar Jakarta.
Tiga Tuntutan “Piknik Nasional Rakyat”
1.Hentikan represivitas aparat, mereka menilai tindakan kekerasan dan penangkapan terhadap demonstran sebelumnya telah melanggar prinsip kemanusiaan.
2.Bebaskan tahanan demo, termasuk mahasiswa yang ditangkap dalam kericuhan aksi Agustus – September lalu.
3.Dengarkan aspirasi rakyat dalam 1 bulan, ultimatum simbolis bagi lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif agar tak abai terhadap suara publik.
Ketua BEM UI, Atan Zayyid Sulthan Rahman, dalam orasinya mengatakan, “Kami datang bukan untuk merusak, tapi untuk mengingatkan. Kalau rakyat sudah bicara dengan santai dan masih tak didengar, mungkin nanti kami bicara dengan cara lain.”
“Kami melihat bahwa banyak sekali tahanan-tahanan politik, Delpedro Marhaen, dan juga kawan-kawan lainnya yang masih ditahan hanya karena menyuarakan pendapatnya, hanya karena membawa aktivitas demokrasi, dan juga dituding sebagai penghasutan,” katanya.
Massa juga membawa sejumlah poster tuntutan atas kondisi demokrasi menjelang satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, yang akan tepat pada 20 Oktober mendatang.
Saat ini belum ada komentar