Aksi awal protes GenZ Nepal akibat pemblokiran medsos yang akhirnya meluas membawa tema Nepo Babies. (Shutterstock)
buzzID – Nepal, 8–11 September 2025. Jalanan Kathmandu dan kota-kota besar Nepal udah kayak “arena perang” versi real life. Ribuan anak muda, kebanyakan Gen Z, turun ke jalan protes ke pemerintah. Pemicunya, larangan media sosial yang dianggap mengekang kebebasan berekspresi, ditambah isu klasik: korupsi, ketimpangan, dan elite politik hidup mewah.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Pada 8-9 Septmeber 2025 Pemerintah Nepal yang dipimpin Perdana Menteri KP Sharma Oli (Partai Komunis Nepal–UML) resmi umumkan pemnblokiran medsos kayak Tiktok, Facebook, Instagram, X. Alasan resminya: biar masyarakat “lebih sehat” dari hoaks. Tapi di lapangan, Gen Z nganggep ini cuma cara pemerintah nutup mulut rakyat. Sehari setelah pengumuman, ribuan mahasiswa dan aktivis langsung demo di Kathmandu. (Reuters, 08/09).
Jurang antara orang kaya dan miskin di Nepal amat dalam. Pendapatan per kapita tahunan Nepal, yang sekitar US$ 1.400 atau setara Rp23 juta, merupakan terendah di Asia Selatan. Tingkat kemiskinan negara ini secara konsisten berada di atas 20 persen dalam beberapa tahun terakhir. Pengangguran di kalangan pemuda di Nepal telah menjadi tantangan besar. Persentase pemuda Nepal yang menganggur dan tidak mengenyam pendidikan mencapai 32,6 persen pada 2024, dibandingkan dengan 23,5 persen di negara tetangganya India, menurut data Bank Dunia.
“We are bound by the chains of unemployment… trapped in the selfish games of political parties. Corruption has woven a web that is extinguishing the light of our future.”
Kita terbelenggu oleh rantai pengangguran… terperangkap dalam permainan egois partai politik. Korupsi telah merajut jaring yang memadamkan cahaya masa depan kita. “Jai Nepal” Abiskar Raut disampaikan secara kontroversional yang kemudian viral. pidato pada program tahunan ke-24 (annual programme) di Holy Bell English Secondary School, Maret 2025

Avishkar Raut jadi sosok Gen Z dan dijuluki ‘Jai Nepal’ memberikan pidato perlawanan terhadap pemerintah Nepal yang dianggapnya rusak.
Pada 09 September 2025, aksi demo makin panas. Gedung parlemen sampai dibakar massa. Hotel-hotel mewah yang identik dengan elite politik juga jadi sasaran. PM Oli akhirnya resign malam itu juga. Kata dia, “Saya mundur demi stabilitas negara.” (Washington Post, 09/09). Aparat menembaki massaSetidaknya dolaporkan 22 orang tewas, ratusan luka-luka akibat bentrok dengan aparat.
“Saya mundur demi stabilitas negara.” Perdana Menteri KP Sharma Oli (Washington Post, 09/09)
Siapa yang Jadi Target? Nepo Babies & Elite Politik
Siapa sangka istilah “Nepo Babies” yang awalnya cuma bahan bercandaan netizen malah bikin satu negara heboh. Awalnya, netizen cuma bikin video lucu-lucuan di TikTok dan Reddit isinya kompilasi foto anak pejabat yang keliling dunia, naik mobil sport, sekolah di luar negeri. Tapi makin lama, makin banyak yang sadar kalau kontrasnya keterlaluan, di satu sisi rakyat susah cari kerja, di sisi lain anak elite hidup bak sultan. Puncaknya? Pemerintah Nepal sempet blokir 26 platform medsos dengan alasan aturan baru. Bukannya reda, protes malah makin gila-gilaan. Hashtag #NepoKids trending, konten makin brutal, dan akhirnya warga turun ke jalan.
“Ini bukan cuma soal medsos. Ini soal keadilan dan transparansi. Kami bosan lihat elite pamer harta sementara rakyat susah,” kata salah satu aktivis muda di Kathmandu (6/9).
“Kami muak lihat elite politik hidup di hotel bintang lima, sementara kami nggak bisa bayar kuliah,” kata Sandesh, mahasiswa 21 tahun, saat diwawancara Reuters (08/09).
“Mereka (nepo babies) dapet semua fasilitas, kerjaan gampang. Sementara kita harus antre kerja berbulan-bulan. Ini ketidakadilan yang nyata,” ujar Anisha, aktivis perempuan (09/09).

Ilustrasi oleh buzzID
Peran Partai Komunis Nepal
Partai Komunis Nepal (UML), tempat Oli bernaung, jadi pihak yang paling disalahkan. Awalnya mereka mengklaim larangan medsos demi stabilitas, tapi publik ngeh itu justru memperlihatkan wajah otoriter. Beberapa faksi komunis kecil (kayak kelompok Netra Bikram Chand “Biplav”) ikut nimbrung, sebagian mengkritik keras UML yang dianggap sudah jauh dari idealisme rakyat kecil. Setelah Oli mundur, parlemen Nepal lagi tarik ulur soal pemerintahan sementara.
Gen Z masih terus turun ke jalan, bilang mereka nggak mau berhenti sebelum ada jaminan: akses medsos balik, korupsi diberantas, dan elite politik lebih transparan. Dunia internasional ngeliat ini bisa jadi turning point buat Nepal, apakah akan lahir sistem politik baru, atau cuma ganti wajah elite doang. Fenomena ini jadi reminder buat kita semua, media sosial bisa jadi senjata ampuh kalau dipakai buat hal serius. Dari meme, bisa jadi gerakan sosial. Dan Nepal baru aja nunjukin kalau suara anak muda bisa bikin perubahan nyata.
Saat ini belum ada komentar