Dari Mao ke Xi : Jalan Terjal PKC Menuju Superpower
- account_circle Fajar Elang
- calendar_month Kam, 4 Sep 2025
- comment 0 komentar

Ilustrasi Xi Jinping dan Mao Zedong. (Lima Charlie)
Dari Chairman ke Sekjen, dari Mao ke Xi. Kisah PKC adalah cerita bagaimana satu partai bisa ngatur hidup 1,4 miliar orang. Goks nggak, bro?
buzzID – PKC (Partai Komunis China) sejatinya lahir di tengah kekacauan. Bayangin tahun 1921, Tiongkok masih penuh perang saudara, kemiskinan, dan campur tangan asing. Di situlah lahir Partai Komunis Tiongkok (PKC), cuma dari 13 orang di sebuah rumah di Shanghai. Nggak ada yang nyangka partai kecil itu bakal jadi mesin raksasa yang mengatur hidup lebih dari 1,4 miliar orang hari ini.
Era Mao Zedong : Revolusi Besar-besaran
Mao Zedong, bapak pendiri RRT (1949), punya slogan: “Berdiri di Timur” (Stand Up in the East). Dia bikin Tiongkok berdiri sebagai negara baru setelah ratusan tahun dijajah. Tapi perjalanannya keras: Great Leap Forward bikin kelaparan massal, Revolusi Kebudayaan bikin kekacauan sosial. Mao memimpin dengan kultus pribadi, sampai jabatan tertinggi waktu itu dinamain Chairman.
Deng Xiaoping : Reformasi Ekonomi
Setelah Mao wafat, muncul Deng Xiaoping (1978). Slogannya: “Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa tangkap tikus.” Artinya? Ideologi bukan segalanya, yang penting ekonomi jalan. Deng buka Tiongkok ke dunia luar, bikin Zona Ekonomi Khusus kayak Shenzhen. Dari sinilah Tiongkok mulai ngerasain boom ekonomi.
Jiang Zemin : Modernisasi 3 Representasi
1990-an, giliran Jiang Zemin. Slogannya: “Tiga Representasi” (Partai harus mewakili kekuatan produktif modern, budaya maju, dan kepentingan mayoritas). Jiang bawa Tiongkok masuk WTO (2001), bikin dunia makin sadar: Tiongkok bukan cuma raksasa tidur, tapi udah bangun dan siap main di arena global.
Hu Jintao : Harmoni
Era 2000-an, Hu Jintao bawa jargon: “Masyarakat Harmonis”. Fokusnya: pemerataan, stabilitas sosial, dan pertumbuhan berkelanjutan. Hu lebih low profile, nggak segila Mao atau sekeras Deng, tapi masa pemerintahannya jadi jembatan ke era baru yang lebih agresif: era Xi.
Xi Jinping : Unlimited Power Mode
Tahun 2012, Xi naik jadi Sekjen PKC. Slogannya: “China Dream” alias mimpi kebangkitan bangsa. Tapi cara mainnya beda. Xi hapus batas masa jabatan presiden (2018), artinya dia bisa terus berkuasa. Dia juga kunci tiga jabatan sekaligus: Sekretaris Jenderal PKC, Presiden RRT, Ketua Komisi Militer Pusat. Jadi, politik, partai, dan militer semua ada di genggamannya. Kalau Mao itu Chairman, Xi adalah Sekjen superpower.

Infografis Struktur PKC. (Desain : D. Setyo)
Struktur PKC Saat Ini
Struktur puncak PKC ada di Politbiro Standing Committee (7 orang). Di bawahnya ada Politbiro (25 orang), terus Komite Sentral (~200 orang). Bedanya dengan dulu: nggak ada lagi jabatan “Ketua” setelah Mao. Semua kekuasaan real dikunci ke posisi Sekretaris Jenderal. Plus, tentara di Tiongkok (PLA) bukan tentara negara, tapi tentara partai. Jadi loyalitasnya ke PKC dan otomatis ke Xi.
Dari Jalan Terjal ke Panggung Dunia
Dari masa Mao yang chaos, Deng yang pragmatis, Jiang yang modernis, Hu yang harmonis, sampai Xi yang ultra sentralistik, PKC udah menempuh jalan panjang penuh drama. Hari ini, Tiongkok berdiri sebagai rival utama Amerika, bukan lagi “pabrik dunia” doang. PKC berhasil bawa Tiongkok dari “pecundang sejarah” jadi negara yang diperhitungkan di level global. Dan di tengah semua itu, satu nama jadi simbolnya: Xi Jinping.
- Penulis: Fajar Elang









Saat ini belum ada komentar